Jumat, 29 Januari 2016

Filsafat Idealisme dan Realisme



Filsafat Idealisme dan Realisme

Idealisme
Sudut pandang ini sebenarnya sudah dirintis oleh filosof besar Plato yang mengatakan bahwa realita atau kenyataan atau kebenaran yang sungguh- sungguh benar adalah sesuatu yang disebut idea, bukan seprti yang dapat dilihat dengan indera manusia. Idea ada ada pada jiwa atau pikiran manusia, bersifat abstrak, uiversal, an abadi. Abstrak bukan berarti tidak ada, tetapi ada, hanya saja tidak dapat ditangkap oleh indera manusia. Sedangkan apa yang dapat ditangkap oleh indera justru menurut idealisme merupakan sesuatu yang semu, bukan realita.
            Untuk memahi ajaran pokok idealisme ini dapat dilihat ajaran Fiche ( 1762-1814) maupun ajaran Sheliing (1775-1854)tentang manusia (Atan Abdul Hakim: 261- 264). Menurut dua filosof tersebut manusia dalam upaya mengenali objek diluar dirinya dengan menangkap objek melalui inderanya dan baru melalui proses intelektualnya manusia benar- benar mengenali objek dalam bentuk pengertian yang bersifat abstrak. Jadi, yang menjadi hakikat manusia sendiri adalah bukan seperti yang dapat dilihat oleh mata dan dapat ditangkap dengan indera yang lain, karena seorang manusia dengan manusia yang lain jelas berbeda dalam segala hal,. Mengapa semua disebut manusia. Apa yang sama pada semua manusia, itulah idea manusia, wujud manusia yang sebenarnya, dan itu dalam bahsa sehari- hari disebut pengertian manusia, hal yang ama tentang manusia, da itu ada pada pikiran manusia.
            Dalam banyak hal idealisme bersentuha pendapatnya dengan rasionalisme. Kalo idealisme lebih menyanhgkut keberadaan sesuatu, rasionalisme lebih banyak menyankut cara memperoleh kebenaran dan tentang kriteria kebenaran. Bagirasionalisme pengetahuan dan kebenaran hanya dapat diperoleh dengan cara berfikir dan kebenaran juga hanya berada pada pihaknya. Yang ditangkap oleh indera manusia bukan kebenaran yang sebenarnya dan justru merupakan yang meragukan. Ungkapan Descartes tentang  Cogito Ergo Sum” yang kurang lebih artinya “Saya (benar) ada karena (buktinya) saya bisa berfikir” menunjukkan keraguan Descartes tentang keberadaan dunia indera, termasuk yang terlihat tentang dirinya, dan baru yakin bahwa dirinya ada setelah adanya kenyataan bahwa dirinya dapat berfikir.

Realisme
Pada hakikatnya kelahiran realisme sebagai suatu aliran dalam filsafat sebagai sintetis antara filsafat idealisme Immanuel Kant disatu sisi dan empirisme Jhon Locke disisi lainnya. Realisme ini kadang kala disebut juga neo realisme. Jhon Locke memandang bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat metafisik dan universal. Ia berkeyakinan bahwa suatu dikatakan benar jika didasarkan pada pengalaman- pengalaman indrawi, siswa induksi. Jhon Locke menyangkal kebenaran akal.
Realisme termasuk salah satu aliran klasik, yang selalu disandarkan pada nama besar Aristoteles yang memandang dunia dalam terma material. Segala sesuatu yang ada dihadapan kita adalah sesuatu yang riil dan terpisah dari alam pikiran, namun dapat memunculkan pikiran melalui upaya selektif terhadap berbagai pengalaman dan melalui pendayagunaan fungsi dan akal. Jadi, realitas yang ada adalah dalam wujud natural, sehingga dapat dikatakan bahwa segala sesuatu selalu digerakkan dari alam.
Dalam memandang kehidupan, realisme berpendapat, bahwa kehidupan fisik, mental, moral dan spiritual biasanya ditandai atau terlihat dalam alam natural. Dengan demikian terlihat realisme sesungguhnya lebih cenderung untuk mengatakan sesuatu itu sebagai sesuatu itu sendiri dari pada sesuatu itu sebagai apa semestinya. Oleh karena itu, dalam mengembangkan sumber daya manusia, aliran ini berangkat dari cara manusia memperoleh pengetahuan.
Menurut aliran realisme, sesuatu dikatakan benar jika memang riil dan secara substantif ada. Suatu teori dikatakan benar apabila ada kesesuaian dengan harapan, dan dapat diamati dab substantif. Aliran ini menyakini, bahwa adanya hubungan interaksi pikiran manusia dan alam semesta tidak akan mempengaruhi sifat dasar dunia. Objek- objek yang diketahui adalah nyata dalam dirinya sendiri, bukan hasil persepsi dan bukan pula hasil olahan akal manusia. Dunia tetap ada sebelum pikiran menyadari dan dia tetap ada setelah pikiran tidak lagi menyadarinya. Jadi, menurut realisme, ada atau tidak adanya kesadaran akal pikiran manusia, alam tetap riil dan nyata dalam hukum- hukumnya.
Bila dikaitkan dengan belajar sebagai proses pencarian pengetahuan, realisme lebih menekankan pada pengkajian persoalan- persoalamn empiris sifat manusia yang bersifat parsial-kasuistis. Kendatipun aliran inu tidak menampilkan potensi rasio manusia, namun mengingat rasionalitas disini hanya sebagai instrumen untuk mendekati alam saja, maka faktor rasioanal manusia yang melihat kebenaran dalam bentuknya yang deduktif kurang mendapat perhatian. Pengembangan sumber daya manusia lebih difokuskan pada pengembangan pendekatan ilmiah yang berdifat induktif.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar