Filsafat Idealisme dan Realisme
Idealisme
Sudut pandang ini
sebenarnya sudah dirintis oleh filosof besar Plato yang mengatakan bahwa
realita atau kenyataan atau kebenaran yang sungguh- sungguh benar adalah
sesuatu yang disebut idea, bukan seprti yang dapat dilihat dengan indera
manusia. Idea ada ada pada jiwa atau pikiran manusia, bersifat abstrak,
uiversal, an abadi. Abstrak bukan berarti tidak ada, tetapi ada, hanya saja
tidak dapat ditangkap oleh indera manusia. Sedangkan apa yang dapat ditangkap
oleh indera justru menurut idealisme merupakan sesuatu yang semu, bukan
realita.
Untuk
memahi ajaran pokok idealisme ini dapat dilihat ajaran Fiche ( 1762-1814)
maupun ajaran Sheliing (1775-1854)tentang manusia (Atan Abdul Hakim: 261- 264).
Menurut dua filosof tersebut manusia dalam upaya mengenali objek diluar dirinya
dengan menangkap objek melalui inderanya dan baru melalui proses intelektualnya
manusia benar- benar mengenali objek dalam bentuk pengertian yang bersifat
abstrak. Jadi, yang menjadi hakikat manusia sendiri adalah bukan seperti yang
dapat dilihat oleh mata dan dapat ditangkap dengan indera yang lain, karena
seorang manusia dengan manusia yang lain jelas berbeda dalam segala hal,.
Mengapa semua disebut manusia. Apa yang sama pada semua manusia, itulah idea
manusia, wujud manusia yang sebenarnya, dan itu dalam bahsa sehari- hari
disebut pengertian manusia, hal yang ama tentang manusia, da itu ada pada
pikiran manusia.
Dalam
banyak hal idealisme bersentuha pendapatnya dengan rasionalisme. Kalo idealisme
lebih menyanhgkut keberadaan sesuatu, rasionalisme lebih banyak menyankut cara
memperoleh kebenaran dan tentang kriteria kebenaran. Bagirasionalisme
pengetahuan dan kebenaran hanya dapat diperoleh dengan cara berfikir dan
kebenaran juga hanya berada pada pihaknya. Yang ditangkap oleh indera manusia
bukan kebenaran yang sebenarnya dan justru merupakan yang meragukan. Ungkapan
Descartes tentang “Cogito Ergo Sum” yang kurang lebih artinya “Saya (benar) ada karena (buktinya) saya bisa berfikir” menunjukkan
keraguan Descartes tentang keberadaan dunia indera, termasuk yang terlihat
tentang dirinya, dan baru yakin bahwa dirinya ada setelah adanya kenyataan
bahwa dirinya dapat berfikir.
Realisme
Pada hakikatnya
kelahiran realisme sebagai suatu aliran dalam filsafat sebagai sintetis antara
filsafat idealisme Immanuel Kant
disatu sisi dan empirisme Jhon Locke
disisi lainnya. Realisme ini kadang kala disebut juga neo realisme. Jhon Locke memandang bahwa tidak ada
kebenaran yang bersifat metafisik dan universal. Ia berkeyakinan bahwa suatu
dikatakan benar jika didasarkan pada pengalaman- pengalaman indrawi, siswa
induksi. Jhon Locke menyangkal
kebenaran akal.
Realisme termasuk salah
satu aliran klasik, yang selalu disandarkan pada nama besar Aristoteles yang memandang dunia dalam terma
material. Segala sesuatu yang ada dihadapan kita adalah sesuatu yang riil dan
terpisah dari alam pikiran, namun dapat memunculkan pikiran melalui upaya
selektif terhadap berbagai pengalaman dan melalui pendayagunaan fungsi dan
akal. Jadi, realitas yang ada adalah dalam wujud natural, sehingga dapat
dikatakan bahwa segala sesuatu selalu digerakkan dari alam.
Dalam memandang
kehidupan, realisme berpendapat, bahwa kehidupan fisik, mental, moral dan
spiritual biasanya ditandai atau terlihat dalam alam natural. Dengan demikian
terlihat realisme sesungguhnya lebih cenderung untuk mengatakan sesuatu itu
sebagai sesuatu itu sendiri dari pada sesuatu itu sebagai apa semestinya. Oleh
karena itu, dalam mengembangkan sumber daya manusia, aliran ini berangkat dari
cara manusia memperoleh pengetahuan.
Menurut aliran
realisme, sesuatu dikatakan benar jika memang riil dan secara substantif ada.
Suatu teori dikatakan benar apabila ada kesesuaian dengan harapan, dan dapat
diamati dab substantif. Aliran ini menyakini, bahwa adanya hubungan interaksi
pikiran manusia dan alam semesta tidak akan mempengaruhi sifat dasar dunia.
Objek- objek yang diketahui adalah nyata dalam dirinya sendiri, bukan hasil
persepsi dan bukan pula hasil olahan akal manusia. Dunia tetap ada sebelum
pikiran menyadari dan dia tetap ada setelah pikiran tidak lagi menyadarinya.
Jadi, menurut realisme, ada atau tidak adanya kesadaran akal pikiran manusia,
alam tetap riil dan nyata dalam hukum- hukumnya.
Bila dikaitkan dengan
belajar sebagai proses pencarian pengetahuan, realisme lebih menekankan pada
pengkajian persoalan- persoalamn empiris sifat manusia yang bersifat
parsial-kasuistis. Kendatipun aliran inu tidak menampilkan potensi rasio
manusia, namun mengingat rasionalitas disini hanya sebagai instrumen untuk
mendekati alam saja, maka faktor rasioanal manusia yang melihat kebenaran dalam
bentuknya yang deduktif kurang mendapat perhatian. Pengembangan sumber daya
manusia lebih difokuskan pada pengembangan pendekatan ilmiah yang berdifat
induktif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar