TEORI BELAJAR MATEMATIKA
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS
KELOMPOK
MATA KULIAH
Pembelajaran Matematika
SD
Yang dibina oleh Ibu Endang
Setyo Winarni
Oleh:
Indah Hasnanini
130151600641
Paula Perana Sari
130151600637
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
September 2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa, yang telah memberi kesempatan dan nikmat yang tidak terkira, sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah ini
berjudul “Teori Belajar Matematika, dan Prnsip Belajar Matematika SD”, yang
disusun untuk menyajikan materi tentang teori belajar yang mendasari
pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar.
Dalam penulisan makalah
ini penulis banyak mendapat masukan dari dosen pembimbing dan teman-teman
kelas, maka dari itu penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya.
Tidak lupa pula, bahwa dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kesalahan,
dan penulis mohon kritik dan sarannya, demi kesempurnaan makalah penulis yang
selanjutnya.
Malang,
26 Januari 2016
Penulis,
Kelompok
I
i
DAFTAR
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang1
B.
Rumusan Masalah1
C.
Tujuan Penulisan1
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Matematika2
B.
Pembelajaran2
C.
Prinsip-Prinsip
Belajar Matematika SD3
D.
Teori Belajar
Matematika SD3
1.
Teori Belajar
Brunner4
2.
Teori Belajar
Gagne7
3.
Teori Belajar
Dienes9
4.
Teori Belajar
Ausubel11
5.
Teori Belajar
Piaget13
6.
Teori Belajar
Van Hiele14
BAB
III PENUTUP
A.
Penutup18
B.
Saran18
Daftar Rujukan19
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latarbelakang
Heruman
(2007:1) menyatakan bahwa matematika adalah bahasa simbol ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian
secara induktif, ilmu tentang bola keteraturan, dan struktur yang
terorganisasi, mulai dari unsyur yang tidak didefinisikan, ke unsyur yang
didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil. Siswa Sekolah
Dasar (SD) umurnya berkisar antara 6 atau 7 tahun, sampai 12 atau 13 tahun.
Menurut Piaget, mereka berada pada fase operasional konkrit. Kemampuan yang
tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses berfikir untuk
mengoperasikan kaidah-kaidah logika, meskipun masih terikat dengan objek yang
bersifat konkret.
Kemampuan
siswa Sekolah Dasar yang masih berada pada fase operasional konkrit, menuntut
guru yang bisa mengelola pembelajaran yangg sesuai dengan tingkat perkembangan
kognitifnya. Oleh sebab itu, guru sebaiknya memahami teori belajar dari
berbagai pendapat para ahli, agar guru dapat menciptakan proses belajar
mengajar yang efektif dan efesien.
B.
Rumusan Masalah
Permasalahan yang dapat dirumuskan adalah
sebagai berikut.
1.
Apa hakikat pembelajaran
matematika?
2.
Apa teori
belajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika?
3.
Bagaimana
aplikasi teori belajar dalam pembelajaran matematika SD?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut.
1.
Untuk
menjelaskan hakikat pembelajaran matematika
2.
Untuk
menguraikan teori belajar yang digunakan dalam pembelajaran matematika
3.
Untuk
menjelaskan aplikasi teori belajar dalam pembelajaran matematika SD.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Matematika
Matematika merupakan salah satu unsur dalam pendidikan. Mata
pelajaran matematika telah diperkenalkan kepada siswa sejak tingkat dasar
sampai ke jenjang yang lebih tinggi, namun demikian kegunaan matematika bukan
hanya memberikan kemampuan dalam perhitungan-perhitungan kualitatif tetapi juga
dalam penataan cara berpikir, terutama dalam pembentukan kemampuan
menganalisis, membuat sintesis, melakukan evaluasi hingga kemampuan memecahkan
masalah. Dengan kenyataan ini bahwa matematika mempunyai potensi yang sangat
besar dalam hal memacu terjadinya perkembangan secara cermat dan tepat maupun
dalam mempersiapkan masyarakat yang mampu mengantisipasi perkembangan dengan
cara berpikir dan bersikap pula. Pembelajaran hendaknya lebih menekankan pada
bagaimana upaya guru mendorong atau memfasilitasi siswa belajar, bukan pada apa
yang dipelajari siswa. Jadi, pembelajaran matematika merupakan upaya guru
mendorong atau memfasilitasi siswa dalam mengkonstruksi pemahamannya akan
matematika. Keberhasilan guru dalam pembelajaran bukan hanya dilihat dari hasil
belajar siswa tetapi juga pada proses dari pembelajaran tersebut.
Ilmu pendidikan, khususnya Matematika sekolah terdiri atas
bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan
kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi siswa serta berpadu dengan
perkembangan IPTEK.
B.
Pembelajaran
Suprijono (2010:11) menyimpulkan pembelajaran merupakan
terjemahan dari learning yang berarti proses, cara dan perbuatan mempelajari.
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika SD adalah proses yang dilakukan
oleh pendidik dengan peserta didik untuk mempelajari matematika melalui
cara-cara atau metode tertentu.
Jadi, pembelajaran
adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
Definisi sebelumnya menyatakan bahwa seorang manusia dapat
melihat dalam perubahan yang terjadi, tetapi tidak pembelajaran itu
sendiri. Konsep tersebut adalah teoretis, dan dengan demikian tidak secara
langsung dapat diamati.
C.
Prinsip-Prinsip
Belajar Matematika SD
Andi (1980:25) menyimpulkan ada beberapa prinsip pembelajaran
matematika di Sekolah Dasar, yaitu:
1. Guru
di Sekolah Dasar dapat menyusun silabus atau perencanaan pembelajaran dengan
mengacu atau berpedoman pada kurikulum sekarang ini yaitu kurikulum 2013.
2. Kecakapan
matematika atau kemahiran matematika yang perlu dimiliki oleh siswa.
Pembelajaran tidak diberikan sendiri tetapi diintegrasikan dengan pelajaran
yang lain seperti IPA, Bahasa Indonesia, dan IPS.
3. Kompetensi
dasar yang tertuang dalam kurikulum merupakan kemampuan minimal yang dapat
dikembangkan oleh sekolah.
4. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran matematika adalah guru
hendaknya mengkondisikan siswa untuk menemukan kembali rumus, pembelajaran
matematika berfokus pada pendekatan pemecahan masalah (memahami soal,
menafsirkan solusi dan menyelesaikan model), pada setiap pembelajaran guru
hendaknya memperhatikan penguasaan materi.
5. Untuk
mengetahui tingkat keberhasilan guru hendaknya melakukan penilaian yang
otentik.
6. Guru
dapat menggunakan teknologi, media belajar atau alat peraga dalam pembelajaran
matematika SD.
D.
Teori
Belajar Matematika di SD
Dalam pembelajaran matematika di SD, diharapkan guru dapat
mengelola pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar secara aktif. Ada
berbagai teori belajar yang mendukung perancangan pembelajaran yang sesuai
dengan tahap perkembangan kognitif siswa, misalnya teori belajar Brunner, teori
belajar Gagne, teori belajar Ausubel, teori belajar Piaget, teori belajar
Dienes dan teori belajar Van Hiele.
1.
Teori
Belajar Brunner
a.
Konsep Teori
Belajar Brunner
Ruseffendi
(1991: 35) menyimpulkan dalam metode penemuannya mengungkapkan bahwa dalam
pembelajaran matematika, siswa harus menemukan sendiri berbagai pengetahuan
yang diperlukannya. Menemukan disini
adalah menemukan lagi, atau dapat juga menemukan yang sama sekali baru.
Ada tiga
proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu proses perolehan informasi baru, proses
mentransformasikan informasi yang diterima dan menguji relevansi dan ketepatan
pengetahuan. Menurut Bruner belajar matematika adalah belajar mengenai
konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi
yang dipelajari, serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan
struktur-struktur matematika itu. Bruner, melalui teorinya itu, mengungkapkan
bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan memanipulasi
benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak-atik
oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika.
Dengan
demikian materi pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap
perkembangan kognitif/pengetahuan anak agar pengetahuan itu dapat
diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut. Proses
internalisasi akan terjadi apabila dipelajari dalam tiga model tahapan yaitu
model tahap enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik.
1)
Model Tahap Enaktif
Dalam tahap ini penyajian yang
dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlibat dalam memanipulasi
(mengotak-atik) objek. Pada tahap ini anak belajar sesuatu pengetahuan dimana
pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkret
atau menggunakan situasi yang nyata, pada penyajian ini anak tanpa menggunakan
imajinasinya atau kata-kata.
2)
Model Tahap Ikonik
Tahap ikonik, yaitu suatu tahap
pembelajaran sesuatu pengetahuan dimana pengetahuan itu direpresentasikan
(diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imaginery), gambar,
atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret yang terdapat pada tahap
enaktif. Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran
internal dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau
grafik yang dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran
dari objek-objek yang dimanipulasinya.
3)
Model Tahap Simbolis
Dalam tahap ini bahasa adalah pola
dasar simbolik, anak memanipulasi simbul-simbul atau lambang-lambang objek
tertentu. Pada tahap simbolik ini, pembelajaran direpresentasikan dalam bentuk
simbol-simbol abstrak (abstract symbols), yaitu simbol-simbol arbiter
yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan,
baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat),
lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.
b.
Teorema Brunner
1)
Dalil Konstruksi / Penyusunan (Contruction Theorem)
Di dalam teorema kontruksi dikatakan
bahwa cara yang terbaik bagi seseorang siswa untuk mempelajari sesuatu atau
prinsip dalam Matematika adalah dengan mengkontruksi atau melakukan penyusunan
sebagai sebuah representasi dari konsep atau prinsip tersebut.
2)
Dalil Notasi (Notation Theorem)
Menurut apa yang dikatakan dalam
terorema notasi, representasi dari sesuatu materi matematika akan lebih mudah
dipahami oleh siswa apabila di dalam representasi itu digunakan notasi yang
sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa.
3)
Dalil Kekontrasan dan Variasi (Contrast and
Variation Theorem)
Di dalam teorema kekontrasan dan
variasi dikemukakan bahwa sesuatu konsep Matematika akan lebih mudah dipahami
oleh siswa apabila konsep itu dikontraskan dengan konsep-konsep yang lain,
sehingga perbedaan antara konsep itu dengan konsep-konsep yang lain menjadi
jelas.
Selain itu di dalam teorema ini juga
disebutkan bahwa pemahaman siswa tentang sesuatu konsep matematika juga akan
menjadi lebih baik apabila konsep itu dijelaskan dengan menggunakan berbagai
contoh yang bervariasi.
4)
Dalil Konektivitas atau Pengaitan (Connectivity
Theorem)
Di dalam teorema konektivitas
disebutkan bahwa setiap konsep, setiap prinsip, dan setiap ketrampilan dalam
matematika berhubungan dengan konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan
ketrampilan-ketrampilan yang lain.
c.
Tahap-Tahapan Belajar Penemuan
Adapun tahap-tahap Penerapan Belajar
Penemuan.
1) Stimulus (pemberian perangsang/simuli
2) Problem Statement (mengidentifikasi masalah)
3) Data collecton ( pengumpulan data)
4) Data Prosessing (pengolahan data)
5)
Verifikasi
6)
Generalisasi
d.
Aplikasi
Teori Belajar Brunner dalam Pembelajaran Matematika di SD
1)
Langkah-Langkah Penerapan
a)
Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep
yang diajarkan. Misal: untuk contoh mau mengajarkan bentuk bangun datar
segiempat, sedang-kan bukan contoh adalah berikan bangun datar segitiga, segi
lima atau lingkaran.
b)
Bantu siswa untuk melihat adanya hubungan antara
konsep-konsep. Misalnya berikan pertanyaan kepada siswa seperti berikut ini “apakah
nama bentuk ubin yang sering digunakan untuk menutupi lantai rumah? Berapa cm ukuran
ubin-ubin yang dapat digunakan?”
c)
Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa
untuk mencari jawabannya sendiri. Misalnya Jelaskan ciri-ciri/ sifat-sifat dari
bangun Ubin tersebut?
d)
Ajak dan beri semangat siswa untuk memberikan pendapat
berdasarkan intuisinya. Jangan dikomentari dahulu jawaban siswa, gunakan
pertanyaan yang dapat memandu siswa untuk berpikir dan mencari jawaban yang
sebenarnya.
2)
Contoh Implementasi Teori Bruner
Pembelajaran menemukan rumus luas
daerah persegi panjang. Untuk tahap contoh berikan bangun persegi dengan
berbagai ukuran, sedangkan bukan contohnya berikan bentik-bentuk bangun datar
lainnya seperti, persegi panjang, jajargenjang, trapesium, segitiga, segi lima,
segi enam, lingkaran.
2.
Teori
Belajar Gagne
Teori yang diperkenalkan Robert M. Gagne
pada tahun 1960-an pembelajaran harus dikondisikan untuk memunculkan respons
yang diharapkan.Menurut Gagne, belajar matematika terdiri dari objek langsung
dan objek tak langsung.
a.
Objek-objek
langsung pembelajaran matematika terdiri atas:
·
Fakta-fakta matematika
·
Ketrampilan-ketrampilan matematika
·
Konsep-konsep matematika
·
Prinsip-prinsip matematika
b.
Objek-objek
tak langsung pembelajaran matematika adalah:
·
Kemampuan berfikir logis
·
Kemampuan memecahkan masalah
·
Sikap positif terhadap matematika
·
Ketekunan
·
Ketelitian
a.
Taksonomi
Gagne
Menurut Gagne tingkah laku manusia
sangat bervariasi dan berbeda dihasilkan dari belajar. Kita dapat
mengklasifikasikan tingkah laku sedemikian rupa sehingga dapat diambil
implikasinya yang bermanfaat dalam proses belajar. Gagne mengemukakan bahwa keterampilan-ketrampilan
yang dapat diamati sebagai hasil-hasil belajar disebut kemampuan-kemampuan atau
disebut juga kapabilitas.
b.
Lima Macam
Hasil Belajar Gagne
Gagne mengemukakan 5 macam hasil
belajar atau kapabilitas tiga bersifat kognitif, satu bersifat afektif dan satu
bersifat psikomotor. Hasil belajar menjadi lima kategori kapabilitas sebagai
berikut :
1)
Informasi
verbal
Kapabilitas
informasi verbal merupakan kemampuan untuk mengkomunikasikan secara lisan pengetahuannya
tentang fakta-fakta.
2)
Ketrampilan
Intelektual
Kapabilitas
ketrampilan intelektual merupakan kemampuan untuk dapat membedakan, menguasai
konsep aturan, dan memecahkan masalah.
Kapabilitas Ketrampilan Intelektual oleh Gagne
dikelompokkan dalam 8 tipe belajar yaitu :
(a) Belajar
Isyarat
(b) Belajar
stimulus Respon
(c) Belajar
Rangkaian Gerak
(d)Belajar Rangkaian Verbal
(e) Belajar
membedakan
(f) Belajar
Pembentukan konsep
(g) Belajar
Pembentukan Aturan
(h) Belajar
Memecahkan Masalah
3)
Strategi
Kognitif
Kapabilitas
Strategi Kognitif adalah Kemampuan untuk mengkoordinasikan serta mengembangkan
proses berfikir dengan cara merekam, membuat analisis dan sintesis.
4)
Sikap
Kapabilitas
Sikap adalah kecenderungan untuk merespon secara tepat terhadap stimulus atas
dasar penilaian terhadap stimulus tersebut.
5)
Ketrampilan
motorik
Untuk dapat
mengetahui seseorang memiliki kapabilitas ketrampilan motorik dapat dilihat
dari segi kecepatan, ketepatan, dan kelancaran gerakan otot-otot serta anggota
badan yang diperlihatkan orang tersebut.
c.
Fase-fase
kegiatan Belajar menurut Gagne
Robert M.Gagne adalah seorang ahli
psikologi yang banyak melakukan penelitian diantaranya fase-fase kegiatan
belajar yang dibagi dalam empat fase yaitu :
1.
Fase Aprehensi
2.
Fase Akuisisi
3.
Fase Penyimpanan
4.
Fase Pemanggilan
d. Implementasi Pembelajaran Matematika SD Berdasarkan Teori Gagne
Teori
belajar Gagne dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di Indonesia. Ada
beberapa pendekatan dan langkah-langkah agar bisa menerapkan teori tersebut
dalam proses pembelajaran. Materi yang akan diambil adalah
pembelajaran mengenai pengenalan operasi penjumlahan serta pengurangan pada
siswa kelas rendah. Alat peraga berupa gambar lambang bilangan, gambar lambang
operasi bilangan dan media kongkrit (misal: permen, apel, pensil, wafer) Berdasarkan konsep Sembilan Kondisi Intruksional Gagne maka kita bisa
menyusun rancangan kegiatan belajar mengajar sebagai berikut:
1.
Memperoleh Perhatian
2.
Memberikan Informasi Tujuan
Pembelajaran
3.
Merangsang siswa untuk mengingat
kembali apa yang telah dipelajari
4.
Menyajikan stimulus
5.
Memberikan bimbingan kepada siswa
6.
Memancing Kinerja
7.
Memberikan balikan
8.
Menilai hasil belajar
9.
Mengusahakan transfer
3.
Teori
Belajar Dienes
Zoltan P.
Dienes adalah
seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran
terhadap anak-anak. Dasar teorinya bertumpu pada teori pieget, dan
pengembangannya diorientasikan pada anak-anak, sedemikian rupa sehingga sistem
yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika.
Dienes berpendapat bahwa pada
dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur,
memisah-misahkan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur dan
mengkatagorikan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur. Dienes
mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang
disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. Ini
mengandung arti bahwa benda-benda atau obyek-obyek dalam bentuk permainan akan
sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.
a.
Tahap-Tahap
Belajar Menurut Teori Dienes
Menurut Dienes konsep-konsep
matematika akan berhasil jika dipelajari dalam tahap-tahap tertentu. Dienes
membagi tahap-tahap belajar menjadi 6 tahap, yaitu:
1)
Permainan Bebas (Free Play)
Permainan bebas merupakan tahap
belajar konsep yang aktifitasnya tidak berstruktur dan tidak diarahkan. Anak
didik diberi kebebasan untuk mengatur benda. Dalam tahap ini anak mulai
membentuk struktur mental dan struktur sikap dalam mempersiapkan diri untuk
memahami konsep yang sedang dipelajari.
2)
Permainan
yang Menggunakan Aturan (Games)
Dalam permainan
yang disertai aturan siswa sudah mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat dalam konsep tertentu.
3)
Permainan Kesamaan Sifat (Searching for
communalities)
Dalam mencari kesamaan sifat siswa
mulai diarahkan dalam kegiatan menemukan sifat-sifat kesamaan dalam permainan
yang sedang diikuti. Untuk melatih dalam mencari kesamaan sifat-sifat ini, guru
perlu mengarahkan mereka dengan menstranslasikan kesamaan struktur dari bentuk
permainan lain.
4)
Permainan
Representasi (Representation)
Representasi
adalah tahap pengambilan sifat dari beberapa situasi yang sejenis. Para siswa
menentukan representasi dari konsep-konsep tertentu.
5)
Permainan
dengan Simbolisasi (Symbolization)
Simbolisasi
termasuk tahap belajar konsep yang membutuhkan kemampuan merumuskan
representasi dari setiap konsep-konsep dengan menggunakan simbol matematika
atau melalui perumusan verbal.
6)
Permainan
dengan Formalisasi (Formalization)
Formalisasi
merupakan tahap belajar konsep yang terakhir. Dalam tahap ini siswa-siswa
dituntut untuk mengurutkan sifat-sifat konsep dan kemudian merumuskan
sifat-sifat baru konsep tersebut
b.
Prinsip-Prinsip Belajar Konsep Menurut
Teori Dienes
Dienes (1971),
dalam bukunya Building up Mathematics, merangkum sistem pembelajaran
matematikanya menjadi empat prinsip umum dalam membelajarkan konsep. Enam tahap
belajar konsep di atas merupakan penyempurnaan dari 4 prinsip berikut:
·
Prinsip Dinamis
·
Konstruktivitas
·
Prinsip
Variabilitas matematika
·
Prinsip
Variabilitas Persepsi atau Prinsip Representasi Jamak
c.
Implementasi Teori Belajar Dienes dalam
Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar Melalui Permainan Interaktif
Permainan interaktif merupakan suatu permainan yang
dikemas dalam pembelajaran, sehingga anak didik menjadi aktif dan senang dalam
belajar. Oleh karena itu, guru harus menggunakan permainan sebagai media maupun
pendekatan dalam belajar matematika bagi anak. Permainan itu antaralain,
sebagai berikut:
1)
Bermain
untuk Belajar Bilangan
2)
Permainan
Dakon Bilangan
3)
Permainan
Tangram dan Pancagram
4)
Permainan operasi hitung
4.
Teori
Belajar Ausubel
Menurut Van Hiele ada
tiga unsur dalam pengajaran matematika yaitu waktu,materi pengajaran dan metode
pengajaran, jika ketiganya ditata secara terpadu maka akan terjadi peningkatan
kemampuan berfikir anak kepada tingkatan berfikir lebih tinggi.
a.
Tipe
Belajar
Menurut
Ausubel dan Robinson ada empat macam tipe belajar :
1)
Belajar menerima bermakna (Meaningful
Reception Learning)
Belajar menerima bermakna yaitu materi pelajaran
yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada pelajar sampai bentuk
akhir, kemudian pengetahuan yang baru itu dikaitkan dengan pengetahuan yang ia
miliki.
2)
Belajar menerima yang tidak bermakna (Reception learning)
Belajar menerima yang
tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis
disampaikan kepada pelajar sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru
itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan yang ia miliki.
3)
Belajar penemuan bermakna (Meaningful discovery learning)
Belajar dengan penemuan
bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi
pelajaran yang dipelajarinya atau pelajar menemukan pengetahuannya dari apa
yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru itu ia kaitkan dengan pengetahuan
yang sudah ada.
4)
Belajar penemuan yang tidak bermakna (Discovery learning)
Belajar dengan penemuan
tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh pelajar
tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
b.
Implementasi Teori Ausubel dalam Pembelajaran
Matematika SD
Prinsip-prinsip
yang perlu diperhatikan untuk menerapkan teori Ausubel yaitu, sebagai berikut:
1)
Pengaturan awal
Ausubel
(2000, 11) mengatakan bahwa Pengaturan Awal adalah perangkat pedagogik yang membantu menerapkan prinsip-prinsip
dengan menghubungkan kesenjangan
antara apa yang pelajar sudah ketahui dan apa yang perlu ia ketahui.
2)
Diferensiasi Progresif
Diferensiasi progresif artinya proses penyusunan konsep yang akan diajarkan. Dengan perkataan lain, model belajar
menurut Ausubel pada umumnya berlangsung dari umum ke khusus.
3)
Belajar Superordinat
Dahar (2011,
103) menyebutkan belajar superordinat terjadi
bila konsep-konsep yang telah dipelajari sebelumnya dikenal sebagai unsur-unsur
suatu konsep yang lebih luas, lebih inklusif.
4)
Penyesuaian Integratif
Untuk mencapai penyesuaian integratif, materi pelajaran hendaknya disusun
sedemikian rupa hingga kita menggerakkan hierarki konseptual dari atas hingga
ke bawah selama informasi disajikan.
5.
Teori
Belajar Piaget
Jean Piaget menyebutkan bahwa
struktur kognitif sebagai Skemata(Schemas), yaitu kumpulan dari skema- skema. Seorang
individu dapat mengikat, memahami, dan memberikan respon terhadap stimulus
disebabkan karena bekerjanya schemata ini. Skemata ini berkembang secara
kronologis, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya,sehingga
individu yang lebih dewasa memliki struktur kognitif yang lebih lengkap dari
pada ketika iamasih kecil.
a.
Tahap
perkembangan kognitif:
1)
Tahap Sensori Motor (sejak lahir sampai dengan 2
tahun)
Bagi anak
yang berada pada tahap ini, pengalaman diperoleh melalui perbuatan fisi (gerakan
anggota tubuh) dan sensori (koordinasi alat indra).
2)
Tahap Pra
Operasi(2 tahunsampaidengan7 tahun)
Ini merupakan tahap persiapan untuk pengorganisasian
operasi konkrit.
3)
Tahap
Operasi Konkrit (7 tahun sampai dengan11 tahun)
Umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami konsep
kekekalan, kemampuan mengklasifikasi, mampu memandang suatu objek dari
sudut pandang yang berbeda secara objektif, dan mampu berfikir reversible.
4)
Tahap
Operasi Formal (11 tahun dan seterusnya)
Tahap ini merupakan tahap akhir dari perkembangan
kognitif secara kualitas. Anak pada tahap ini sudah mampu malakukan penalaran
dengan menggunakan hal-hal yang abstrak.
b.
Implementasi
Teori Piaget dalam Pembelajaran Matematika SD
Teori
belajar Piaget dapat kita lihat contoh penerapannya pada materi kelas 1 tentang
penjumlahan. Pejumlahan tanpa teknik menyimpan misalnya, bukanlah termasuk
topik yang sulit diajarkan di Sekolah Dasar. Akan tetapi untuk mengajarkan
topik tersebut guru harus menggunakan media belajar, sebab usia siswa kelas 1
masih berada dalam tahap operasional konkrit. Dimana siswa lebih mudah memahami
topik jika disajikan media pembelajaran yang konkrit.
Contoh media
yang diperlukan itu misalnya menggunakan media lidi ataupun sedotan. Andaikan
siswa akan mencari hasil penjumlahan 34 + 23 siswa bisa mencari hasilnya dengan
menggunakan media yang disediakan oleh guru.
6.
Teori
Belajar Van Hiele
Van Hiele adalah seorang guru
matematika bangsa Belanda yang mengadakan penelitian dalam pengajaran geometri,
menurut Van Hiele ada tiga unsur utama dalam pengajaran geometri, yaitu waktu,
materi pengajaran, dan metode pengajaran yang diterapkan. Jika ketiga unsur
ditata secara terpadu akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak kepada
tahapan berpikir yang lebih tinggi.
a.
Tahapan
Pemahaman Geometri Teori Van Hiele
Van Hiele
menyatakan bahwa terdapat 5 tahap belajar anak dalam belajar geometri,
yaitu:
1)
Tahap Pengenalan (Visualisasi)
Pada tahap ini anak mulai belajar mengenal suatu
bentuk geometri secara keseluruhan, namun
belum mampu mengetahui adanya sifat-sifat dari bentuk geometri yang dilihatnya itu.
2)
Tahap Analisis
Pada tahap ini anak sudah mulai mengenal sifat-sifat
yang dimiliki bangun geometri yang diamatinya. Ia sudah mampu menyebutkan
keteraturan yang terdapat pada bangun Geometri itu.
3)
Tahap Pengurutan (Deduksi Informal)
Pada tahap ini anak sudah mulai mampu melaksanakan
penarikan kesimpulan yang kita kenal dengan sebutan berfikir deduktif.
4)
Tahap Deduksi
Dalam tahap ini anak sudah mampu menarik kesimpulan
secara deduktif, yaitu penarikan kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum
menuju hal-hal yang bersifat khusus.
5)
Tahap Akurasi
Dalam tahap
ini anak sudah mulai menyadari betapa pentingnya ketepatan dari prinsip-prinsip
dasar yang melandasi suatu pembuktian. Tahap akurasi merupakan tahap berfikir
yang tinggi, rumit, dan kompleks.
b.
Tahapan
Pembelajaran Geometri Menurut Van Hiele
Kemajuan tingkat berfikir geometri siswa maju
dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya melibatkan lima tahapan atau
sebagai hasil dari pengajaran yang terorganisir ke lima tahap pembelajaran.
Kemajuan dari satu tingkat ke tingkat berikutnya lebih bergantung pada
pengalaman pendidikan/pembelajaran ketimbang pada usia atau kematangan.
Sejumlah pengalaman dapat mempermudah (atau menghambat) kemajuan dalam satu
tingkat atau ke satu tingkat yang lebih tinggi.
Adapun tahap
– tahap Van Hiele tersebut
digambarkan sebagai berikut ini:
1)
Tahap 1 Informasi (Information): Melalui
diskusi, guru mengidentifikasi apa yang sudah diketahui siswa mengenai sebuah
topik dan siswa menjadi berorientasi pada topik baru itu.
2)
Tahap 2 Orientasi Terarah/Terpadu (Guided
Orientation): Siswa menjajaki objek-objek pengajaran dalam
tugas-tugas yang distrukturkan secara cermat seperti pelipatan, pengukuran,
atau pengkonstruksian.
3)
Tahap 3 Eksplisitasi (Explicitation): Siswa
menggambarkan apa yang telah mereka pelajari mengenai topik dengan kata-kata
mereka sendiri, guru membantu siswa dalam menggunakan kosa kata yang benar dan
akurat, guru memperkenalkan istilah-istilah matematika yang relevan.
4)
Tahap 4 Orientasi Bebas (Free Orientation): Siswa
menerapkan hubungan-hubungan yang sedang mereka pelajari untuk memecahkan soal
dan memeriksa tugas yang lebih terbuka
(open-ended)
5)
Tahap 5 Integrasi (Integration): Siswa
meringkas/membuat ringkasan dan mengintegrasikan apa yang telah dipelajari,
dengan mengembangkan satu jaringan baru objek-objek dan relasi-relasi.
c.
Karakteristik
Teori Van Hiele
Crowley 1987 (dalam Nur’aeni 2008, hlm. 128),
menyatakan bahwa karakteristik teori Van
Hiele adalah sebagai berikut:
·
Tingkatan tersebut bersifat rangkaian yang berurutan
·
Tiap tingkatan memiliki symbol dan bahasa tersendiri
·
Apa yang implisit pada satu tingkatan akan menjadi
eksplisit pada tingkatan berikutnya
·
Bahan yang diajarkan pada siswa diatas tingkatan
pemikiran mereka dianggap sebagai reduksi tingkatan
·
Kemajuan dari satu tingkatan ke tingkatan berikutnya
lebih tergantung pada pengalaman pembelajaran; bukan pada kematangan atau usia.
·
Seseorang melangkah melalui berbagai tahapan dalam
melalui satu tingkatan ke tingkatan berikutnya
·
Pembelajar tidak dapat memiliki pemahaman pada satu
tingkatan tanpa melalui tingkatan sebelumnya
·
Peranan guru dan peranan bahasa dalam konstruksi
pengetahuan siswa sebagai sesuatu yang krusial.
d.
Kelebihan
Dan Kekurangan Teori Van Hiele
Di dalam sebuah strategi maupun teori tentunya
memiliki kelebihan dan kekurangnya. Kelebihan
dan kekurangan teori Van Hiele diantaranya
adalah:
1)
Kelebihan Teori Van Hiele
Teori Van Hiele ini
membantu siswa untuk lebih memahami geometri dengan belajar melalui pengalaman,
siswa tidak dituntut untuk mengetahui terlebih dahulu materi geometri yang akan
diajarkan sehingga siswa akan menemukan pengetahuannya sendiri melalui proses
belajar yang mereka lakukan, selain itu kecepatan pemahaman dari tahap awal ke
tahap selanjutnya lebih tergantung pada isi dan metode pembelajaran yang
digunakan guru daripada usia dan kematangan berfikir siswa.
2)
Kekurangan Teori Van Hiele
Pengajaran teori Van Hiele ini harus dilakukan secara
bertahap karena jika tidak, kemungkinan siswa untuk dapat memahami geometri
dengan baik tidak akan tercapai. Teori ini juga menuntut guru untuk kreatif
dalam mengemas pengajaran yang dapat menyesuaikan dengan tingkat berpikir
siswa, serta guru harus mampu menentukan strategi yang tepat dalam
pelaksanaannya.
Dari berbagai teori belajar, dapat
dilihat bahwa setiap teori belajar memberikan pemahaman tentang cara
menciftakan pembelajaran yang memungkinkan siswa menemukan sendiri dan
membangun sendiri pengetahuannya. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran
di Sekolah Dasar harus disajikan dengan luwes sehingga siswa antusias untuk
mengikuti kegiatan pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
berbagai teori belajar yang dikemukan oleh para ahli, terdapat beberapa
kesamaan dasar teori. Seperti, pembelajaran yang dikehendaki adalah
pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menjadi aktif dalam pembelajaran,
guru bidang study juga harus memahami tingkatan berfikir siswanya agar siswa
dapat mengerti dan terampil dalam menyelesaikan masalah dalam pelajaran
matematika.
B.
Saran
Bagi
para pembaca atau guru Sekolah Dasar pada khususnya, ciftakanlah pembelajaran
matematika yang menyenangkan. Mari bersama kita hapus anggapan siswa bahwa
belajar matematika itu membosankan, dengan cara menggunakan media yang konkrit
dalam proses pembelajaran.
DAFTAR RUJUKAN
Andi, Hakim. 1980. Landasan Matematika. Jakarta: Bharata
Aksara.
Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah
Dasar. Bandung: Rosda.
Kristiyanto. 2007. Pembelajaran Matematika Berdasarkan Teori
Dienes, (Online), (http://www.Math Education Pembelajaran matematika berdasar teori
Dienes.html), diakses 25 Januari 2016.
Ruseffendi. 1991. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan
Kompetensinya dalam Pengajaran Matematika CBSA. Bandung: Tarsito.
good job
BalasHapusThe Best Casinos Online with a Curacao Casino Site
BalasHapusIn the United States, gambling is legal in 카지노 many of the most countries where people live in and bet online. In หาเงินออนไลน์ this article, we will 바카라사이트 show you the best online casinos