Kamis, 04 Februari 2016

konflik sosial, interaksi sosial, perubahan sosial dan tindakan sosial



PERUBAHAN DAN KONFLIK SOSIAL



MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS KELOMPOK
MATA KULIAH
Pembelajaran IPS di SD
Yang dibina oleh Ibu Sri Sugiharti



Oleh:
Dani Falentino S. Mukin/1301516006
Indah Hasnaini/130151600641
Musinah G. Rumbino/1301516006
Sri Minarti/1301516006








UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRASEKOLAH
September 2015


KATA PENGANTAR

            Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberi kesempatan dan nikmat yang tidak terkira, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya. Makalah ini berjudul “Perubahan dan Konflik Sosial”, yang disusun untuk memberikan pemahaman tentang cara memahami konflik sosial dan perubahan sosial serta cara mengatasi masalah tersebut.
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak mendapat masukan dari dosen pembimbing dan teman-teman kelas, maka dari itu penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya. Tidak lupa pula, bahwa dalam penulisan makalah ini banyak terdapat kesalahan, dan penulis mohon kritik dan sarannya, demi kesempurnaan makalah penulis yang selanjutnya.






                                                                                                Malang, 03-09-2015
                                                                                                Penulis


                                                                                                Kelompok V

                                                                                                                                    i
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB 1 PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang 1
B.     Rumusan Masalah 1
C.     Tujuan Penulisan 2

BAB 2 PEMBAHASAN
A.    Perilaku Sosial3
B.     Tindakan Sosial3
C.     Interaksi Sosial5
D.    Bentuk Interaksi Sosial7
E.     Perubahan Sosial10
F.      Konflik Sosial15

BAB 3 PENUTUP
A.    Kesimpulan 18
B.     Saran  18
Daftar Pustaka 19

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Setiap manusia lahir ke dunia dengan membawa potensi masing-masing yang dapat di kembangkan melalui proses belajar maupun pendidikan. Oleh karena itu manusia lahir sebagai makhluk individu, memiliki perbedaan yang khas dengan manusia lain, karena itu pasti terjadi perbedaan paham dan pendapat yang timbul di dalam suatu himpunan masyarakat (Abu, 2003).
Selanjutnya hidup bermasyarakat ditandai dengan adanya perubahan sosial, perilaku sosial dan konflik sosial di antara sesama warganya. Namun walaupun demikian dengan adanya perubahan dan konflik sosial sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat terutama untuk membangkitkan semangat di dalam kehidupan bermasyarakat. Menurut Max weber, seorang sosiolog jerman bahwa tindakan sosial dimulai dari tindakan atau prilaku seseorang dengan perilaku orang lain yang dapat dipahami secara subjektif dan diorientasikan pada tujuan tertentu (Winataputra, 2010: 23).
Berangkat dari uraian di atas, kajian makalah ini mengungkapkan tentang manusia dan sifatnya yang berbeda-beda, sehingga tindakan seseorang merupakan cerminan dari keinginan yang dinyatakan dalam bentuk suatu tindakan nyata. Sehingga dari tindakannya tersebut memiliki makna bagi sendiri maupun bagi orang lain

B.  Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang diatas, dapat diidentifikasi beberapa rumusan masalah, yaitu sebagai berikut.
1.      Apa definisi tindakan sosial, perubahan sosial dan konflik sosial?
2.      Apa penyebab terjadinya perubahan sosial ataupun konflik sosial?
3.      Bagaimana cara menangani perubahan sosial dan konflik sosial yang terjadi dimasyarakat?


C.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk menjelaskan definisi perubahan sosial, konflik sosial dan tindakan sosial.
2.      Untuk memberikan pemahaman tentang penyebab dari perubahan dan konflik sosial.
3.      Untuk merincikan cara mengatasi masalah sosial, sepertu cara mengatasi konflik sosial.


BAB II
PEMBAHASAN


A.  Perilaku Sosial
Perilaku sifatnya individual yang erat kaitannya dengan kepribadian, yang membentuk sepanjang ia hidup melalui proses sosialisasi. melalui sosialisasi ini terjadi proses pembinaan kepribadian (personality building) yang dapat membantu seseorang untuk menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan berpikir kelompoknya (masyarakat) sehingga ia berperan dan berfungsi di lingkungannya.
Kepribadian sangat dipengaruhi oleh faktor genetika (genotype), pengalaman, pendidikan, perasaan, naluri dan lingkungan, baik lingkungan fisikal maupun lingkungan sosial budaya. Sosialisasi dan kepribadian akan membentuk suatu sistem perilaku (behavior system) yang akan menentukan dan membentuk sikap (attitude) seseorang. Secara umum perilaku sosial dapat dirumuskan sebagai tingkah laku seseorang dalam berteman, yang lebih mengedepankan unsur normatif daripada unsur pribadi. Dalam perilaku sosial seseorang di tuntut untuk mengikuti sesuai kaidah dan apabila menyimpang dari aturan normatif, yang disebut deviation yaitu penyimpangan terhadap kaidah dan nilai-nilai dalam masyarakat. Orang yang berperilaku menyimpang disebut deviants.

B.  Tindakan Sosial
Menurut Max Weber, seorang sosiolog Jerman, tindakan sosial dimulai dari tindakan atau perilaku seseorang dengan perilaku orang lain, yang dapat dipahami secara subjektif (oleh si pelaku) dan diorientasikan pada tujuan tertentu. Tindakan sosial adalah tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai arti atau arti subjektif bagi dirinya yang diarahkan pada tindakan orang lain. Tindakan sosial merupakan tindakan seseorang yang diarahkan kepada orang lain, tujuan adalah untuk mendapatkan reaksi dari sasaran yang sesuai dengan harapannya, sedangkan pemahaman adalah suatu penafsiran seseorang terhadap tindakan tersebut sehingga dapat memberikan reaksi.
Terdapat lima ciri pokok tindakan sosial, yaitu berikut ini.




1.    Tindakan yang Memiliki Makna Subjektif
Tindakan seseorang yang merupakan cerminan dari keinginanya yang dinyatakan dalam bentuk suatu tindakan nyata sehingga dari tindakannya tersebut memiliki mana bagi dirinya, yang belum tentu memiliki mana bagi orang lain. Contoh: mengganguknya kepala si pemuda kepada si gadis untuk mengajak si gadis, namun anggukan si gadis belum tantu menyetujui ajakan si pemuda. Dengan begitu tindakan tersebut memiliki makna bagi kedua belah pihak walaupun pemaknaannya berbeda.

2.    Tindakan Nyata yang Bersifat Membatin Sepenuhnya dan Bersifat Subjektif
Perilaku seseorang yang ditanggapi oleh orang lain dengan memberi reaksi dan dari reaksinya tersebut berpengaruh secara subjektif terhadap diri si pelaku. Seperti si pemuda akan merasa gembira jika si gadis membalas anggukannya dan akan merasa sedih jika tidak mendapat respon.

3.    Tindakan yang Berpengaruh Positif
Suatu situasi yang memberikan pengaruh positif atas tindakan seseorang akan mendorong orang tersebut untuk mengulang tindakannya. Misalnya, si pemuda yang mendapat balasan anggukkan akan mengulang lagi tindakanya karena dari tindakannya tersenyum dapat memuaskan dirinya.

4.    Tindakan sosial selalu diarahkan pada orang lain untuk mendapat respons
Perilaku yang diarahkan pada benda mati tidak termasuk perilaku sosial karena tidak akan mendapat reaksi, demikian pula bila diarahkan pada makhluk hidup walaupun dari tindakan tersebut akan mendapat reaksi.

5.    Tindakan merupakan respon terhadap perilaku orang lain
Seseorang tidak hanya melakukan tindakan untuk memperoleh respons dari orang lain., tetapi juga akan bertindak untuk memberikan respons atas tindakan orang lain. Si pemuda dapat menganggukkan kepala untuk membalas anggukkan orang lain yang ditujukan kepada dirinya.
Dilihat dari tingkat kemudahan untuk memahaminya, tindakan sosial dapat dibedakan kedalam empat tipe, yaitu berikut ini.

a.    Rasionalitas Instrumental (Zwerk rational)
Tipe ini merupakan tindakan sosial murni artinya tindakkan seseorang yang memperhatikan cara bertindak dan tujuan yang hendak dicapai dari tindakan tersebut. Misalnya, seorang mahasiswa berlajar dengan tekun untuk mendapatkan hasil ujian yang memuaskan.

b.   Rasionalitas yang berorientasi nilai (werkrational action)
Tindakan yang dilakukan merupakan salah satu cara yang baikdan tidak bertentangan dengan kaidah, tetapi tidak diyakininya sebagai cara yang terbaik untuk mencapai tujuan. Misalnya, mahasiswa yang telah mengikuti ujian mata kuliah terus belajar untuk menghadapi ujian sidang, dengan tujuan untuk mendapatkan yudisium terbaik. Padahal untuk mendapatkan yudisium tersebut terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh, seperti menulis skripsi, mempertahankan skripsi waktu ujian sidang, nilai dari setiap mata kuliah (IPK) dan lain-lain.

c.    Tindakan afektif (affective action)
Tipe tindakan ini lebih didominasi oleh perasaan atau emosi dan kepura-puraan atau dibuat-buat sehingga sering kali tindakan afektif ini sulit dipahami atau tidak rasional. Misalnya, tindakan seseorang menerima tawaran untuk memanjat tebing padahal ia takut ketinggian, ia melakukannya karena ingin mendapat pujian atau perhatian.

C.  Interaksi Sosial
Interaksi sosial adalah kunci atau syarat utama dari semua kehidupan sosial karena tanpa interaksi sosial tidak ada kehidupan bersama-sama. Bertemunya dua orang tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial tanpa adanya komunikasi, saling mempengaruhi dan kerja sama, bahkan persaingan atau pertikaian, untuk mencapai tujuan bersama. Tetapi, dua orang yang bertemu tersebut dapat menimbulkan tindakan sosial meskipun tanpa bicara karena pada masing-masing orang akan muncul perasaan atau slaing menilai. Untuk terjadinya interaksi sosial harus terpenuhi syarat berikut, yaitu adanya kontak sosial (social contact) dan komunikasi. Kontak sosial dapat melalui kontak primer, yaitu bertemu secara langsung dengan berhadapan muka (face to face) dan kontak sekunder atau kontak secara tidak langsung, yaitu melalui media perantara, seperti telepon, surat, media massa. Dengan demikian interaksi sosial dapat berlangsung antara:
1.      Individu dengan individu, misalnya pedagang dengan pembeli;
2.      Individu dengan kelompok atau kelompok dengan individu, seperti inspektur upacara dengan peserta upacara atau penceramah dengan audiensinya;
3.      Kelompok dengan kelompok, seperti perkawinan dan pertandingan sepak bola.

Berdasarkan berlangsungnya interaksi sosial yang dapat terjadi antarindividu atau individu dengan kelompok dan anatarkelompok maka interaksi sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut;
1.      Pelaku lebih dari satu orang atau satu kelompok.
2.      Adanya komunikasi di antara pelaku.
3.      Adanya tujuan, mungkin sama atau tidak sama antarpelaku.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi interaksi sosial, baik bergerak secara terpisah atau secara bersamaan melahirkan interaksi. Faktor tersebut antara lain:

1.        Imitasi
Kata imitasi memiliki arti secara harfiah, yakni “tiruan”, di samping merupakan suatu konsep, imitasi dapat terjadi apabilaseseorang melakukan tindakan peniruan secara sadar atau tidak terhadap perilaku orang lain. Misalnya seorang anak yang berperilaku seperti orang tuanya. Proses imitasi dapat bersifat positif dan dapat menimbulkan hal-ha yang bersifat negatif. Bersifat positif jika tidak bertentangan denfan kaidah dan dapat mendorong seseorang untuk mematuhi serta mempertahankan kaidah tersebut, sedangkan bersifat negative jika yang ditiru merupakan tindakan-tindakan yang menyimpang.

2.        Sugesti
Sugesti merupakan suatu proses penanaman gagasan, pandangan atau perasaan ke dalam pikiran seseorang dan diterimanya tanpa melalui pemikiran yang kritis. Sugesti cepat terjadi pada orang yang mengalami stress, mengalami tekanan atau kemampuan berpikirnya lemah sehingga mudah menerima pandangan yang berasal dari orang lain. Sedangkan pelaku sugesti akan cepat berhasil jika ia berada pada posisi yang menentukan, memiliki kekuatan dan kekuasaan. Misalnya, orang tua otoriter yang menerapkan berbagai perintah dan larangan kepada anaknya sehingga diterimanya secara dogmatis.

3.        Identifikasi
Identifikasi merupakan kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi identik dengan orang lain, yang mejadi idolanya. Identifikasi secara sederhana dapat diartikan sebagai proses menyamakan diri terhadap orang lain, yang dapat dilakukan melalui imitasi atau sugesti. Misalnya, seorang remaja yang memiliki idola seorang penyanyi maka ia akan beruaha menyamakan dirinya dengan idolanya tersebut misalnya dengan meniru model rambut atau pakaianya tanpa berpikir secara rasional.
4.        Simpati
Suatu proses dimana seseorang merasa tertarik kepada pihak lain, yang lebih di dorong oleh perasaannya dan bersifat subjektif dinamakan simpati. Misalnya, seseorang melihat orang lain dan langsung tertarik padahal sebelumnya tidak pernah bertemu.

D.      Bentuk Interaksi Sosial
Dalam kehidupan sosial terdapat beberapa bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif dan juga bersifat disosiatif. Bentuk interaksi sosial yang bersifat asosiatif, yaitu kerjasama (co-operation) dan akomodasi (accommodation), sedangkan yang bersifat diasosiatif adalah persaingan (competition), kontraversi, dan pertentangan atau pertikaian (conflict). Bentuk interaksi sosial yang disebut terakhir, yaitu konflik sosial secara khusus akan dibahas pada Kegiatan Belajar 3.
Kerjasama (cooperation) disebut juga koperasi, yang terbentuk karena adanya kesadaran bersama akan suatu kepentingan yang dirasakan sehingga melahirkan suatu kesepakatan untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan atau kepentingan tersebut. Sehubungan dengan pelaksanaannya, kerjasama dapat diklasifikasikan ke dalam lima bentuk, yaitu berikut ini.
1.        Kerukunan yang mencangkup gotong-royong dan tolong-menolong.
2.        Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa anatardua organisasi atau lebih.
3.        Ko-optasi (Co-optation), yaitu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksaan politik dalam suatu organisasi, sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya keguncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.
4.        Koalisi (coalition), yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Pada awalnya, koalisi sering mengalami keguncangan dikarenakan adanya perbedaan dari organisasi-organisasi yang melakukan koalisi tersebut. Akan tetapi, dengan adanya persamaan tujuan maka langkah-langkah yang di ambil bersifat kooperatif.
5.        Joint-venture, yaitu bentuk kerjasama yang bergerak dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, dengan bagi keuntungan berdasarkan kesepakatan. Misalnya, joint-venture dalam pengusahaan proyek pertambangan minyak antara PT Pertamina dengan PT Caltex.

Proses kerjasama dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
1.        Kerjasama spontan (spontaneous cooperation) yang secara otomatis ada dalam masyarakat, misalnya gotong-royong;
2.        Kerjasama langsung (directed cooperation) yang terbentuk karena adanya perintah dari atasan atau penguasa;
3.        Kerjasama kontrak (contractual cooperation) yang terbentuk atas dasar perjanjian;
4.        Kerjasama tradisional (traditional cooperation) yang merupakan bagian dari sistem sosial.

Akomodasi merupakan upaya untuk memperlancar interaksi sosial dengan mengurangi pertentangan, mencegah terjadinya disintegrasi, menggalangkan kerjasama dan percampuran kebudayaan yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Sehingga dengan adanya akomodasi tersebut dapat melahirkan kerjasama, menyelaraskan dengan perubahan dan memungkinkan terjadinya pergantian dalam posisi tertentu serta terjadinya asimilasi.
Persaingan (competition) merupakan bentuk interaksi sosial yang bersifat disosiatif dan mungkin juga bersifat asosiatif. Persaingan yang bersifat asosiatif dapat terlihat dari adanya perserikatan atau perkumpulan seprofesi, selain untuk kemjuan pribadi dan relasinya juga untuk kemajuan kelompok, seperti IDI, sedangkan yang disosiatif bersifat memecah belah antarindividu atau antar kelompok sehingga terjadi persaingan, di mana individu atau kelompok yang bersaing mencari keuntungan dengan cara mencari perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Terdapat dua tipe persaingan, yaitu yang bersifat pribadi dan tidak pribadi. Persaingan bersifat pribadi atau rivalry, yaitu orang perorangan atau individu secara langsung bersaing. Sedangkan yang tidak bersifat pribadi, yang langsung bersaing adalah kelompok, misalnya persaingan antar dua perusahaan untuk mendapatkan monopoli di suatu wilayah. Kedua tipe persaingan tersebut dapat menghasilkan beberapa bentuk persaingan, antara lain sebagai berikut.

1.        Persaingan Ekonomi
Persaingan yang muncul kerena terbatasnya jumlah persediaan barang dibandingkan dengan jumlah konsumen sehingga produsen bersaing dalam menghasilkan barang dan jasa.

2.        Persaingan Kebudayaan
Persaingan yang terjadi apabila dua kebudayan berada dalam suatu wilayah sehingga terjadi persaingan di antara mereka.

3.        Persaingan Kedudukan
Persaingan yang terjadi di dalam kelompok atau pada masyarakat untuk mendapatankan kedudukan yang dipandang tinggi atau paling dihargai.
E.  Perubahan Sosial
Setiap manusia mengalami perubahan, yang hanya dapat dibedakan berdasarkan dimensi waktu dan unsyur yang berubah, baik yang mengarah kepada kemajuan maupun kearah kemunduran. Perubahan yang mengarah kemunduran (regress) lebih dikedepankan sebagai dapak disfungsional dari penggunaan suatu inovasi, misalnya penggunaan mesin huller telah menghilangkan ekonomis tenaga kerja wanita. Sedangkan perubahan yang bersifat progresif lebih diutamakan untuk kemajuan masyarkat dan menghargai martabatnya sehingga untuk terjadinya perubahan tersebut diperlukan persiapan atau kesiapan pada warga dan masyarakat. Misalnya dalam penerapan teknologi dikenal adanya teknologi adaptif.
Winataputra (2010: 58) menyatakan bahwa. 
Dalam mengkaji perubahan dalam masyarakat, perlu diawali dengan postulat yang telah diterima secara umum, bahwa dalam kehidupan ini perubahan merupakan suatu keniscayan karena tidak ada yang tetap kecuali perubahan. Perubahan merupakan bagian yang melekat dalam kehidupan manusia dan niscaya akan terjadi secara terus-menerus. Perubahan yang dimaksud disini adalah perubahan dalam berbagai aspek sosial dan berkaitan erat langsung atau tidak langsung dengan tindakan manusia dalam lingkup lokal dan global yang memberi konteks terhadap pemikiran, sikap dan tindakan manusia itu sendiri.
Terjadi perubahan sosial yang mudah diamati oleh pihak luar, sedangkan anggota masyarakat yang mengalami perubahan kurang merasakannya. Perubahan sosial diartikan sebagai perubahan yang berkenaan dengan kehidupan masyarakat, termasuk didalamnya perubahan sistem nilai dan norma sosial, sistem pelapisan sosial, struktur sosial, proses sosial, pola sikap dan tindakan sosial, serta lembaga kemasyarakatan. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan transportasi telah membawa banyak perubahan terhadap kehidupan masyarakat. Suatu peristiwa sosial dapat dikatakan sebagai perubahan sosial apabila memiliki ciri-ciri yang menyertainya sebagai berikut:
1.      Setiap masyarakat mengalami perubahan oleh karena itu tidak ada suatu masyarakat pun yang yang berhenti perkembangannya.
2.      Perubahan yang terjadi pada suatu lembaga kemasyarakat akan diikuti dengan perubahan pada lembaga sosial lainnya.
3.      Perubahan sosial yang cepat biasanya menimbulkan disintegrasi yang bersifat sementara, yang kemudian diikuti dengan proses reorganisasi untuk memantapkan kaidah yang baru.
4.      Perubahan sosial terjadi pada aspek material maupun immaterial.
Pada umumnya, terdapat beberapa faktor yang mendasari terjadinya perubahan sosial, yaitu faktor yang bersumber dari dalam (faktor internal) dan yang datang dari luar (faktor eksternal) masyarakat. Di bawah ini dikemukakan beberapa faktor penyebab perubahan sosial yang bersumber dari dalam masyarakat.

1.    Perubahan Komposisi Penduduk
Winataputra (2002: 19) bertambah atau berkurang jumlah merupakan keadaan yang menunjukkan terjadinya perubahan komposisi penduduk. Pertambahan jumlah penduduk yang cepat yang tidak diimbangi dengan pertambahan produksi untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduk dapat menimbulkan perubahan sosial. Misalnya, kemiskinan, pengangguran, dan kejahatan. Sebaliknya, berkurangnya jumlah penduduk yang disebabkan oleh tingkat kematian yang tinggi atau migrasi ke luar, dapat menimbulkan perubahan sosial, seperti kekurangan tenaga kerja.
2.    Penemuan Baru
inovasi atau penemuan baru yang dihasilkan oleh anggota masyarakat dan diadopsi oleh warga masyarakat dapat menimbulkan perubahan sosial. Penemuan alat komunikasi telah membawa perubahan sosial secara luas, penemuan dan penggunaan alat-alat mekanik dalam bidang pertanian telah mendorong terjadinya perubahan sosial dari masyarakat agraris ke industri.

3.    Konflik Sosial
Konflik sosial, yaitu pertentangan yang terjadi dalam masyarakat, baik secara perorangan maupun kelompok, misalnya terdapat pertentangan antara generasi baru dengan generasi tua terhadap kaidah yang berlaku, perselisihan antara petani untuk mendapatkan air.

4.     Pemberontakan
Pemberontakan atau revolusi yang berasal dari anggota masyarakat, misalnya pemberontakan terhadap penjajah atau pemimpin otoriter. Dewasa ini muncul pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan masyarakat desa untuk menentang atau memberhatikan Kepala Desa. Sedangkan perubahan sosial yang disebabkan faktor eksternal adalah bencana alam, peperangan akibat internavensi pihak luar dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Masuk kebudayaan asing, baik secara langsung dibawa oleh salah seorang anggota masyarakat maupun secara tidak langsung (melalui media televisi, film ,surat kabar, atau majalah), dapat menimbulkan perubahan sosial. Jika kebudayaan yang masuk tersebut dipandang lebih maju maka akan terjadi proses imitasi oleh anggota masyarakat.
Berlangsung proses perubahan sosial karenat terdapat daya pendorong dan penghambat. Faktor pendorong terjadinya perubahan sosial adalah sistem pendidikan yang maju, sikap menghargai hasil karya orang lain, keinginan untuk maju, adanya toleransi terhadap perubahan yang menyimpang, sistem kemasyarakatan terbuka, penduduk heterogen, ketidakpuasaan terhadap bidang kehidupan tertentu, disorganisasi dalam masyarakat yang mudah nmenerima inovasi. Sedabgkan yang menjadi faktor penghambat terjadi perubahan sosial adalah: perkembangan ilmu pengetahuan yang lambat,sikap masyarakat tradisional, kepentingan yang telah tertanam dengan kuat, prasangka buruk terhadap pihak luar       dan rasa takut terjadinya kegoyahan dalam integrasi masyarakat.
Perubahan sosial dapat dibedakan ke dalam beberapa bentuk, yaitu:
a.    Perubahan Sosial yang Lambat dan Perubahan Sosial yang Cepat  
Perubahan sosial yang lambat disebut evolusi, yaitu perubahan yang memerlukan waktu lama dan berupa rentetan-tentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat. Terjadinya perubahan ini berlangsung secara alamiah tanpa adanya suatu rencana atau kehendak tertentu, yang merupakan upaya masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang baru, yang muncul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Teori perubahan sosial secara evolusi ini dapat digolongkan kedalam tiga kelompok.
1.      Berdasarkan pandangan uniliner theories of evolution bahwa masyarakat mengalami perkembangan dengan tahap-tahap tertentu, bermula dari bentuk yang sederhana menuju ke bentuk yang lebih konpleks dan sampai pada tahap yang sempurna.
2.      Berdasarkan teori theory of evolution yang mengemukakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu mengikuti tahap-tahap tertentu yang tetap karena perubahan sosial itu tidak mengikuti tahap-tahap tertentu yang tetap karena perubahan sosial itu telah terjadi mengikuti garis evolusi.
3.      Berdasarkan teori multilined theories of evolution, yang merupakan penggabungan dari kedua teori tersebut, dan lebih mengutamakan adanya penelitian secara alamiah terhadap perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat.
Perubahan sosial yang berlangsung cepat disebut revolusi, yang meliputi dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat. Dimana perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dulu atau tanpa rencana. Supaya perubahan sosial dapat berlangsung secara revolusi maka terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
1.      Harus ada keinginan umum untuk mengadakan perubahan, seperti rasa tidak puas terhadap keadaan dan keinginan mengadakan perbaikan dalam kehidupan masyarakat;
2.      Adanya seorang pemimpin atau kelompok yang mampu mengakomodasi keinginan masyarakat dan merumuskan dalam suatu program dan arah gerakan, memimpin dan menggerakkan masyarakat untuk mengadakan perubahan sosial;
3.      Didukung oleh sistem ideologi dan pandangan hidup masyarakat; dan
4.      Adanya momentum yang tepat untuk mengadakan suatu gerakan atau perubahan sosial.
b.   Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
            Perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsyur-unsyur terstruktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Seperti perubahan mode pakaian atau rambut tidak membawa pengaruh bagi masyarakat dalam keseluruhan karena tidak menimbulkan perubahan pada lembaga masyarakat. Lain halnya dengan industrialisasi yang berlangsung dalam masyarakat  agraris merupakan perubahan yang akan membawa pengaruh besar terhadap keseluruhan unsyur dalam masyarakat tersebut. Pertumbuhan penduduk yang tinggi dan jumlah banyak telah menimbulkan perubahan sosial dengan pengaruh yang besar, seperti terjadinya urbanisasi, fragmentasi lahan garapan, transmigrasi, dan pelaksanaan program keluarga berencana

c.    Perubahan yang Direncanakan dan Tidak Direncanakan
            Perubahan yang direncanakan (planed change) atau yang dikehendaki (intented change), yaitu perubahan-perubahan sosial yang sebelumnya telah dikehendaki dan diprogram terlebih dahulu oleh lembaga masyarakatnya. Pihak yang menghendaki perubahan dan memimpin perubahan dalam masyarakat disebut agent og change. Cara-cara yang dipakai untuk mempengaruhi masyarakat dengan sistem teratur dan direncanakan dinamakan rekayasa sosial (social planing).
            Perubahan yang tidak direncanakan (unplaned change) atau tidak dikehendaki (unintented change) berlangsung diluar perkiraan atau jangkauan masyarakat dan dapat menimbulkan konsekuensi sosial yang tidak diharapkan masyarakat, tetapi perubahan ini dapat diterima oleh masyarakat. misalnya hilangya peranan kaum bangsawan dalam pemerintahan. Perubahan sosial bukan saja telah membawa berbagai kemajuan yang bermanfaat bagi masayarakat, tetapi disamping itu pula dapat melahirkan dampak negatif, diantaranya melahirkan disintegrasi yaitu munculnya ketidakselarasan dengan nilia-nilai yang ada dimasyarakat sehingga memunculkan berbagai masalah sosial dan perpecahan dalam masyarakat. apabila disintegrasi terjadi dengan cepta dan mendadak maka mungkin akan menimbulkan hal-hal yang sukar untuk dikendalikan, seperti pergolakan daerah, aksi protes dan demonstrasi, berbagai bentuk kriminalitas, kenakalan remaja, pengemis dan gelandangan.

F.   Konflik Sosial
            Bentuk proses sosial yang bersifat disosiatif, juga muncul dalam konflik sosial, konflik sosial telah ada dan selalu menyertai manusia sepanjang sejarah (Winataputra, 2010: 27). Konflik sosial juga terjadi pada zaman kuno terjadi konflik antar dewa dalam bentuk peperangan, konflik antar, suku dalam mempertahankan dan merebutkan wilayah.
            Secara umum konflik sosial dapat diartikan sebagai pertentangan antaranggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan. Dalam sosiologi konflik sosial merupakan gambaran terjadinya percekcokan, perselisihan, ketegangan atau pertentangan akibat dari perbedaan yang muncul dalam kehidupan masyarakat (Abu, 2003:30).
1.    Faktor Perbedaan Individu Dalam Masyarakat
Perbedaan ini terjadi berdasarkan pada perbedaan antaranggota masyarakat secara orang perorangan, baik secara fisik dan mental maupun perbedaan material dan material. Perbedaan fisik menekankan pada keadaan jasmaniah, misalnya rupa dan kecantikan dan kesempurnaan indera.
2.    Perbedaan Pola Kebudayaan
Perbedaan yang terdapat antar daerah atau suku bangsa yang memiliki budaya yang berbeda, atau terdapat dalam suatu daerah yang sama karena perbedaan paham, agama, dan pandangan hidup. Sehingga dari perbedaan tersebut melahirkan dan memperkuat sentiment primordial yang mengarahkan konflik antar golongan.
3.    Perbedaan Status Sosial
Status sosial adalah kedudukan seseorang dalam kelompok atau masyarakat, yang untuk mendapatkannya ada yang bisa diusahakan dan tanpa diusahakan. Terdapat kedudukan yang beragam masyarakat dapat menimbulkan perselisihan untuk mendapatkan kedudukan yang baik terutama ascribed status.
4.    Terjadinya Perubahan Sosial
            Perubahan sosial dengan konflik terdapat hubungan karena perubahan sosial dapat terjadi akibat konflik sosial atau sebaliknya perubahan sosial dapat menimbulkan konflik. Masuknya unsyur baru dalam suatu sistem dapat menjadi perubahan sosial yang dapat memicu terjadinya konflik apabila masyarakat tidak sepenuhnya menerima. Secara lebih rinci, konflik sosial dapat memberikan fungsi bagi masyarakat adalah sebagai berikut:
a.       Akomodasi merupakan suatu cara menyelesaikan konflik sosial yang dapat menjadi sarana, untuk mencapai keseimbangan masyarakat.
b.      Konflik sebagai media untuk menumbuhkan dan meningkatkan perasaan solidaritas dalam kelompok (in grouf).
c.       Mengaktifkan peran individu dan kelompok.
d.      Menjadi sarana komunikasi bagi pihak yang berkonflik.
            Pada umumnya, terdapat enam bentuk konflik sosial yang terjadi dalam masyarakat, yaitu berikut ini.
a.       Konflik pribadi, merupakan pertentangan yang terjadi secara individual.
b.      Konflik kelompok, karena adanya pertentangan antara dya kelompok dalam masyarakat.
c.       Konflik anatarkelas sosial, dapat terjadi pada status sosial yang berbeda, yang dapat disebabkan oleh perbedaan kepentingan.
d.      Konflik rasial, adalah pertikaian yang terjadi karena didasarkan adanya perbedaan pandangan terhadap adanya perbedaan ciri jasmaniah.
e.       Konflik politik, pertentangan yang terjadi dalam masyarakat karena perbedaan pendapat yang dianut oleh setiap kelompok.
f.       Konflik budaya, yaitu pertentangan yang terjadi dalam masyarakat disebabkan dengan adanya perbedaan budaya.

            Terdapat beberapa cara penyelesaian konflik berdasarkan kebiasaan-kebiasaan yang digunakan masyarakat untuk menyelesaikannya.
a.       Konsiliasi, artinya perdamaian, diguna untuk menyelesaikan konflik melalui upaya mempertemukan dua pihak dan mengadakan perdamaian.
b.      Mediasi, sebagai salah satu cara menyelesaikan konflik dengan menggunakan jasa pihak ketiga.
c.       Arbitrase, yaitu melalui pengadilan yang dipimpin oleh seseorang untuk memutuskan.
d.      Paksaan, sebagai alternatif dalam menyelesaikan konflik apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua belah pihak yang bertikai.
e.       Detente, detente bersifat persuasif terhadap kedua belah pihak.


BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Berdasarkan kajian teoritis di atas, dapat disimpulkan bahwa:
1.      Perubahan sosial dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, faktor pendorong perubahan adalah pendidikan yang maju, sehingga perubahan dapat terjadi secara lambat dan cepat, besar atau kecil sering menimbulkan disintegrasi dalam berbagai bentuk perubahan sosial. 
2.      Dalam kehidupan sosial, ditemukan banyak masalah kehidupan, seperti adanya perubahan sosial yang akan berimbas pada terjadinya konflik sosial. Namun, harus disadari bahwa menyelesaikan masalah dengan cara yang baik akan menjadikan manusia saling menghormati sesamanya, sehingga akan terciftalah masyarakat madani.

B.  Saran
Sebagai makhluk sosial manusia hendaknya dapat memahami cara menyelesaikan permasahan kehidupan dengan baik. Perubahan dalam tatanan sosial akan terus terjadi, jadi diperlukan kesiapan yang matang untuk menghadapinya.


Daftar Rujukan

Winataputra, Udin. 2010. Materi dan Pembelajaran IPS SD. Jakarta: Universitas Terbuka.
Abu, A. 2003. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Sapriya, d. 2006. Konsep Dasar IPS. Bandung: UPI PRESS.


 





                                                                                                                                                                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar